//
you're reading...
30 Hari Menulis, Flash Fiction

Guru Omar Bakrie

Omar Bakrie, seorang guru SD di sebuah desa. Kala itu dia masih bujangan dan merupakan sosok guru yang sangat sabar dan berdedikasi pada dunia pendidikan.

Maklum tenaga pengajar di desa memang kurang, Omar Bakrie, seperti halnya juga guru-guru yang lain, harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran. Bisa dibilang hampir semua mata pelajaran dari mulai bahasa, sosial sampai ilmu alam, matematika dan bahkan seni. Tapi karena Omar memang berdedikasi pada dunia pendidikan dia mau mempelajari dasar-dasar setiap ilmu yang dia akan ajarkan pada murid-muridnya.

Penampilan Omar memang lucu, kurus, kecil dan tak lupa kacamata tebal. Setiap hari dia menggunakan sepeda untuk mencapai sekolah. Setiap mengendarai sepeda, Omar selalu menggunakan topi mirip meneer Belanda. Tapi sepertinya topi yang dia gunakan agak kebesaran sehingga seolah-olah badannya yang kecil tenggelam dalam topi meneer-nya itu.

Jenis sepeda Omar pun terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Dia tampak sedikit kesulitan ketika mendayung sepeda itu. Saat pedal mencapai titik terendahnya, sudah pasti kaki Omar tidak bisa mencapai pedal dengan sempurna, dia harus sedikit menjinjitkannya. Lucu kalau dilihat, sering rekan-rekan guru atau murid menahan tawa melihat Omar mengendarai sepedanya. Apalagi saat dia mulai memperlambat dan turun dari sepeda. Orang-orang yang melihatnya dibuat harap-harap cemas, apakah Omar akan mendarat dengan sempurna atau terjatuh.

Tapi itu lah Omar Bakrie, lucu, tapi dedikasinya terhadap dunia pendidikan tidak perlu diragukan lagi.

***

Ada satu siswa, namanya Abu dia terkenal pintar di sekolah, tapi perangainya agak kurang sopan sebenarnya. Omar melihat bakat besar dalam diri anak ini. Dia selalu bilang suatu saat Abu akan jadi pemimpin bagi bangsa ini.

Abu bahkan tidak segan-segan mendebat Omar di kelas saat Omar sedang menerangkan sebuah materi pelajaran. Anak yang begitu kritis. Omar bahkan sama sekali tidak tersinggung dengan sikap anak ini. Ia bahkan terkadang mengaku bahwa apa yang dikatakan Abu itu lebih tepat dibanding apa yang Omar coba jelaskan kepada murid-murid yang lain. Suatu sikap yang langka untuk seorang guru kala itu.

Dari semua kelebihan Omar, ada satu sifatnya yang tidak terlalu baik sebagai pengajar. Dia sedikit lunak terhadap murid-muridnya, terutama pada murid-murid yang dia anggap berbakat, seperti Abu.

Abu bisa dibilang sering melakukan hal-hal yang mencemooh Omar. Mulai dari menggembosi ban sepeda Omar atau mengikat sepeda Omar di atas pohon. Yang paling memalukan adalah ketika Abu menyimpan cairan di kursi Omar dan tanpa sengaja ia mendudukinya. Celana Omar jelas basah seperti orang yang baru mengompol dari belakang.

Omar tidak pernah mencari tahu siapa yang melakukan hal ini, dia seperti tidak peduli akan penganiayaan yang dia terima. Dia hanya mencoba lebih hati-hati di waktu ke depan, jangan sampai menjadi korban kejahilan yang sama.

***

Tiba saat kelulusan Abu menghampiri Omar dengan mata berkaca-kaca.

“Pak Omar, maafkan saya ya? Saya yang selama ini melakukan perbuatan-perbuatan yang menyusahkan Bapak. Saya benar-benar meminta maaf untuk semuanya,” kata Abu sambil menangis.

“Tidak apa-apa, semoga kamu sukses ya Abu,” kata Omar.

Omar mengulurkan tangannya pada Abu menawarkan sebuah jabatan, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa akan mendapatkan perlakuan yang sangat mengharukan saat itu. Abu memeluk Omar dengan sangat eratnya sambil menangis sejadi-jadinya. Omar terlihat kikuk, badannya yang kecil tidak terlalu jauh selisihnya dengan muridnya tersebut. Dengan susah payah dia mengusap-ngusap kepala Abu untuk menunjukkan kasihnya pada muridnya yang baru saja lulus dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah tempat dia mengajar.

***

Setelahnya Omar selalu memantau perkembangan Abu. Bagaimana dia masuk perguruan tinggi terbaik di negeri, mendirikan sebuah kelompok usaha besar, bahkan masuk dalam dunia politik dan mencapai posisi menteri. Pejabat yang terhormat. Omar bangga bahwa muridnya dulu ada yang menjadi pemimpin bangsa ini.

Sampai suatu saat Omar membaca tentang pemberitaan di surat kabar bahwa perusahaan dipimpin oleh Abu telah melakukan pengerusakan alam besar-besaran. Lumpur menggenangi daerah tempat perusahaan milik Abu melakukan eksploitasi sumber daya alam.

Saat itu Omar sudah tidak lagi mengajar, dia sudah terlalu tua untuk hal itu. Omar hanya menggeleng-gelengkan kepala membaca pemberitaan itu. Tak dapat ditahannya air mata mulai mengalir. Ia memalingkan kepalanya pada sebuah kemeja yang dia pakai saat perpisahan dulu, saat ia melepas angkatan Abu dalam sebuah acara perpisahan. Pakaian itu kenangan dirinya dengan Abu, dia tidak pernah cuci kemeja itu, tetap digantungnya hingga hari ini.

Sebelum memeluk gurunya itu, Abu melumuri tangannya dengan lumpur. Dia sengaja memeluk Omar hari itu, cap tangannya mengotori bagian belakang kemeja Omar. Omar baru sadar hal itu ketika ia sampai di rumah.

About samdputra

Self Employed, Employer, st24pulsa, st24mlm creator

Discussion

2 Responses to “Guru Omar Bakrie”

  1. Memang manusia itu sulit untuk merubah sifat dan kebiasaannya. :)

    Posted by @byusyem | September 24, 2010, 11:38 am
  2. anak sejuta lumpur! :)

    Posted by MT (@mataharitimoer) | February 2, 2012, 1:59 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Flickr Photos

Timbul pertanyaan

Rainy day

Watching TV

More Photos

Statistik

  • 18,221 hits

Twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.